Posts

Perbedaan

Apa yang terlintas di pikiran kalian jika membicarakan tentang perbedaan? Gender? Ras? Agama? Dalam hidup, ada satu kata yang ketika diucapkan atau terlintas dalam pikiran, kita langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu. Begitu juga dengan perbedaan, kita pasti punya ingatan masing-masing tentang perbedaan. Perbedaan itu mutlak adanya yang telah diciptakan Allah agar kita saling mengenal. Tanpa adanya perbedaan, tidak ada indah dalam hidup ini, absennya perbedaan mengakibatkan kebosanan, menurut hemat saya tentunya. Namun juga tak jarang perbedaan melahirkan masalah sebagai bentuk egoisme manusia sebagai makhluk. Atau juga kadang perbedaan itu mendatangkan kegalauan untuk bersikap dan mengambil keputusan tentang masa depan. Perbedaan sebenarnya mengkayakan pandangan kita, harusnya membuat kita lebih bersyukur lagi terhadap apa yang sudah kita dapatkan saat ini. Ada kalanya perbedaan dapat meruntuhkan jembatan yang telah ada, namun tak jarang menghancurkan dinding tinggi di antaran...

Fed Up With Quotes

Hai para pembaca setia blog saya (macam banyak kali pun) :P Apa pendapat kalian tentang quotes? atau kata-kata motivasi yang sekarang sudah banyak sekali dan dengan gampangnya bisa kita akses? Well, bagi saya, pada awalnya saya sangat suka membaca quotes dan menjadikannya salah satu sumber kekuatan saya agar tetap menjadi orang baik dan berpikiran positif. Saya seringkali mengumpulkan kata-kata keramat itu baik dengan menulis kembali sebagai status di sosial media atau sekedar menyimpan gambar screenshotnya. Tapi makin ke sini saya merasakan quotes tersebut malah membuat saya bingung, ada quotes yang menyarankan give up, ada quotes yang menyarankan bertahan. Saya rasa saya memang sudah terlalu banyak mengisi pikiran saya dengan quotes. Saat ini yang saya rasakan adalah quotes itu hanyalah kumpulan kata yang merupakan pembenaran atas situasi yang sedang kita alami dan keputusan apa yang kita ambil. Saya sudah muak dengan quotes walaupun kadang saya tetap membacanya setiap ada ya...

Resolution Updated ~o)

Here I am, after long pause, write again. As I promised, this post is about my resolution, I know it's too late, but yeah better late than never. Setelah bersemedi cukup lama di dunia nyata akhirnya saya memutuskan hubungan dengan nyamuk, eh maksudnya memutuskan bahwa tahun ini  sisa bulan-bulan 2016 akan saya habiskan untuk mengupgrade diri layaknya sebuah software, dari version 2.0 menjadi 2.1 dan seterusnya. Saya tahu kalau menikah masih menjadi isu yang sangat santer di kalangan perkepoan dunia nyata, belum lagi dengan fakta bahwa calon saya masih belum jelas. Namun, saya juga sadar kalau menikah bukan lagi target utama saya tahun ini, bahkan untuk bercanda pun saya malas. So, hasil semedi saya menelurkan beberapa cita-cita sederhana yang ingin saya capai di tahun ini, atau setidaknya awal tahun depan, apa saja? jreng...jreeenggg.. 1. Belajar Nyetir Saya rasa udah saatnya punya SIM A, walaupun belum punya mobil pribadi, saya rasa bisa menyetir di dunia yang semakin pana...

Where is My 2016 Resolution?

I've been thinking hard lately. Sometimes, I ended up doing something in my bed, falling asleep. People say that if someone sleeps too much, perhaps there are things that one thinks a lot and still he doesn't get the solutions. So do I, the solutions of my problems seem too difficult to find this time. That's why in the first months of 2016, instead of reviewing my 2015 resolution and creating the new one, I just kept doing things without any clear direction which indicates my life is so risky. I've been thinking too much yet not any single organised action I did. There are so many options I can take and I waste many of the time to think which way should I step. The more times I think, the more options come up and you know they add more stuff into my mind. I've been so indecisive and I hate that fact. I've been questioning my self about many things. From which one I should do first between career or study till the hottest issue every single year: am I read...

Jatah Pahala

Ada sebuah pikir yang tak lagi sama sejak sekembali saya dari esdua. Bukan pikiran yang berat-berat seperti isu liberalisme kok, hanya pemikiran sederhana tentang tumpukan piring kotor di dapur saja. Dulu, sebelum merantau saya melihat piring-piring itu sebagai beban yang kadang dengan sengaja saya hindari. Secepat mungkin kabur dari dapur setelah meletakkan piring bekas makan sebelum disuruh untuk mencuci piring atau sengaja melambat-lambatkan makan sehingga mamak selesai duluan dan mencuci piring sehingga saya bisa nitip piring kotor saya. Tapi tidak selalu begitu kok, kadang kalau kumat rajin saya sangat bahagia bisa membersihkan piring-piring itu bahkan sampai mengelap bagian dapur yang lain. Ya tapi itu hanya ketika kumat yang tak sering terjadi dan tak bisa diprediksi. Well, sekarang pandangan saya jadi berbeda. Akhir-akhir ini piring kotor itu akan tinggal begitu saja sampai pagi jika saya tak menyentuhnya. Usia mamak sudah agak senja. Jadi mamak seringkali membiarkannya beg...

Hari Pertama Kerja

Well, niat tidur setelah lelah sesorean bersama aktivitas baru dan semalaman kena bom notifikasi messenger akhirnya tak jadi. Baring kanan baring kiri akhirnya ambil hape lagi buat nulis jejak di blog daripada bengong ga tau ngapain dalam gelap. Hari ini akhirnya jadi juga saya menjadi tenaga pengajar kontrak paruh waktu sementara aja di kampus tercinta, Kampus Ekonomi tempat saya menimba air eh ilmu es satu. Tidak banyak yang saya persiapkan untuk mengajar kali ini karena bahan ajar sudah tersedia, saya hanya perlu mengulang kaji dan membahas soal-soal sebelum membahasnya di kelas bersama adik-adik leting. Persiapan saya lebih ke kostum dan kesiapan mental. Jujur saya kurang sekali pakaian formal sehingga saya memutuskan menambah koleksi rok dan sepertinya masih belum cukup (dasar wanita!). Persiapan lain adalah sepatu, saya belum punya sepatu selain sneakers yang saya bawa pulang dari Manchester. Akhirnya tadi saya memakai wedges yang sering saya gunakan ke pesta. Saat ini di kep...

Sabang, Part III: February 2016

Sungguh kali ini saya sudah seperti travel agent yang bolak balik bawa turis ke Sabang. Gimana nggak, selama tiga bulan berturut-turut saya ke Sabang terus. Untuk urusan minta izin sama mamak saja saya udah lebih berhati-hati. Mencari-cari alasan yang pas, menunggu-nunggu waktu yang cocok. Biar di-acc lagi. Sebenarnya saya pribadi pun sudah eneg ke Sabang walaupun belum sempat snorkeling. Setidaknya nggak secepat ini ke Sabang lagi. Tapi, demi kawan ya kan. Asal jangan terjadi saya demi kawan tapi kawan demikian. Agenda ke Sabang ketiga ini adalah liburan liburan dan liburan sebenar-benarnya liburan. Tidak ada yang menjemput di pelabuhan seperti pertama kali saya ke Sabang atau tidak ada cerita tinggal bawa diri saja sementara segalanya sudah tersedia seperti kunjungan kedua saya ke Sabang. Ke Sabang yang ketiga ini saya membawa motor, menyusun itinerary dan budget. Hingga nasib anak keuangan dipercayakan jadi bendahara lapangan. Alamak-oi! Jadi ceritanya ada seseorang yang ber...