Posts

Takdir Sedang Mengajakku Bercanda

Saat aku sudah tidak lagi se-semangat dulu mencari tau tentang sesuatu yang masih menjadi misteri sampai saat ini, tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah kejadian sederhana namun penuh makna. Baru saja setelah shalat Ashar di hari Jumat saat hujan sedang turun dengan lebat aku memunajatkan doa menyerahkan segala urusan pada-Nya lalu setelahnya aku sedikit rajin melantunkan ayat-ayatnya yang terangkum dalam surat ke-18 dalam al-Quran, aku langsung dihadapkan pada sebaris notifikasi yang membuatku tersenyum sendiri bahkan meningkatkan intensitas suaraku membaca ayat suci Ilahi. Tersenyum senang sekaligus tak tenang, sepertinya doaku barusan langsung menembus langit terijabah tanpa hijab. Tapi tentu saja jawaban doa itu tak sejelas 1+2, tetap saja punya rumus dan teka-teki yang masih harus diselesaikan. Apalagi kemudian notifikasi selanjutnya malah lebih membuatku semakin tak tahu berkata apa, dua hal dalam satu pembahasan, dua hal yang sama-sama sedang berada dalam pertimbangan. Langsu...

When I am Angry

Pernah suatu ketika beberapa hari yang lalu seorang bapak dengan rasa penasaran dalam kalimat beliau bertanya kepada saya: "Na, kamu gimana sih kalau marah?" Sebenarnya itu bukan kali pertama saya menerima pertanyaan itu. Dan saya berharap ke depan juga masih ada orang-orang yang akan bertanya hal demikian. Karena saya ingin orang menganggap hidup saya baik-baik saja dengan segala keceriaan yang saya punya. Kalau boleh saya menilai diri, saya ini orang yang introvert tapi kalau sudah dekat kalian bisa menganggap saya extrovert karena segala macam candaan, tawa, ceria dan keterbukaan saya akan kalian temui dalam tahap yang kedua itu. Mungkin akibat keunikan kepribadian yang saya miliki ini beberapa orang menjadi sedikit penasaran bagaimana reaksi saya saat marah. Hmm... sebagai manusia biasa saya tentu juga pernah marah. Tetapi kadang hal-hal kecil yang mungkin besar di mata orang tidak membuat saya emosi dan mungkin hanya pada level kesal lalu membenci sikap itu bukan or...

Kamu yang mana?

Image
Intinya sih cuma mau post tulisan ini di blog juga, tapi malas ketik ulang..jadi di screen captured aja ya! #pardonmylaziness #semogabermanfaat #postinganabsurd

Tentang Pulang

Saat mengingat pulang, terkadang aku sudah tak sabar lagi menukarkan kertas A4 bertuliskan detil kepulanganku dengan boarding pass di konter maskapai berwarna ungu itu. Mungkin saja aku sudah mulai jengah dengan kehidupan negeri dongeng di sini, rasanya segalanya serba indah, mudah, dan nyaman. Tapi jauh di dalam hati ini, ada kehampaan yang terasa, tak lengkap tanpa orang tua, dan tanpa cinta. Mungkin itu alasanku kenapa ingin pulang. Sebaliknya, ada sisi lain dalam hati ini yang tak ingin kembali. Aku belum siap meninggalkan negara ini, masih banyak hal yang ingin kulakukan di sini, aku belum selesai dengan kota ini. Ditambah lagi rasa khawatir yang akhir-akhir ini tak pernah lagi pergi dan semakin bertambah saja. Khawatir tentang bagaimana aku harus beradaptasi lagi dengan reverse culture shock seperti cuaca, transportasi, currency, listrik, gempa, internet, tayangan televisi, politik negeri dan masih banyak lagi. Cemasku kian bertambah saat aku memikirkan tentang gelar master...

Hmm... Sudah Kuduga

Image
Pernahkah kalian merasakan hal yang sama seperti ini? Saat kalian sudah muak dengan segala hal tentang sesuatu, muak dengan sikap kalian sendiri yang tak bisa melepaskan diri dari kenangan masa lalu yang sudah lewat dan harapan masa depan yang sangat tidak pasti lalu kalian berniat sekali untuk berhenti saat ini juga. Bagian selanjutnya adalah kalian berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri dari sesuatu itu, mengumpulkan segala alasan dan pembenaran untuk pergi, berdoa supaya diberikan ketetapan hati, dan kalian berhasil! Selang beberapa waktu, kalian mulai menikmati keberhasilan, mulai bahagia, mulai biasa saja dengan hal itu bahkan sudah sama sekali tidak peduli. Tapi ternyata hal yang tak terduga tiba-tiba begitu saja datang dan mengingatkan kalian pada sesuatu itu, seolah mengajak kalian kembali membuka tiap halaman bab kehidupan tentangnya, dan seakan semesta mengatakan untuk tetap menjaga harapan itu dan menuliskan to be continued   instead of  the end.  Dan sem...

Menghadapi Fitnah

Beberapa waktu lalu saya mengalami hal yang tidak menyenangkan, saya difitnah di depan teman saya sendiri oleh seseorang yang cuma satu dua kali saja bertemu saya. Lantas, setan pun datang mengompori saya untuk membela diri dan menceritakan kejadian sebenarnya kenapa dia bisa menuduh saya yang macam-macam seperti itu. Setan dan nafsu self defense saya membujuk secara halus dengan dalih saya berbuat benar jadi saya pantas ikut menjelekkan si pembawa berita buruk dengan menceritakan kejadian yang saya yakini benar adanya. Semalam, saat saya melakukan kebiasaan buruk sebelum tidur; men-scroll timelines semua sosial media saya, di instagram saya menemukan sebuah nasihat luar biasa dari akun @pedulijilbab yang sudah cukup lama saya ikuti. Dalam postingan berupa gambar 4x4 itu tertulis begini: DIFITNAH? Berikan jawaban terindah untuk ia yang memfitnah: Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu. (Ustadz Salim A. Fillah) Ah, sungguh saya lang...

Ketika Cinta Harus Memilih

Masih dalam suasana Idul Adha yang identik dengan pemotongan hewan kurban, saya jadi teringat tentang sebuah film pendek yang saya tonton di youtube beberapa waktu lalu. Kisahnya mirip dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. saat diuji cintanya kepada Allah untuk mengorbankan anak kesayangan beliau. Ujian yang sangat berat karena disitulah pembuktian tentang seberapa besar ketaatan seorang hamba akan perintah Tuhannya namun di saat bersamaan ujian itu secara langsung melibatkan cinta seorang ayah terhadap anaknya. Di satu sisi, ketaatan kepada Allah adalah sesuatu hal yang mutlak dilaksanakan apalagi beliau adalah seorang Rasul, namun di sisi lainnya pembuktian taat itu harusnya mengorbankan seseorang yang teramat dicintai dan pernah sangat dinanti kehadirannya dalam jangka waktu yang sangat lama. Kembali ke film pendek yang saya tonton, ceritanya tentang seseorang lelaki yang akan segera menikahi wanita shalehah. Tapi, ada syarat tertentu yang diajukan orang tua calon mempelai wanita yaitu s...