Posts

Ketenangan Diri

Semakin kita bertambah usia, jika kita belajar dan peka, maka semakin bertambah pula kedewasaan kita. Meski tak jarang kedewasaan itu tak melulu soal usia. Tapi, pengalaman memang juga benar adalah sosok guru yang bijaksana jika kita mau berguru dan menempa diri dengannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjelang usia yang dibilang sudah tak lagi muda bahkan hampir kepala tiga, saya merasa banyak sekali pelajaran hidup yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih tenang meski saya tau saya selalu punya kesempatan bertemu dengan serigala berbulu domba. Meski saya sudah pernah mengalami hal yang paling pahit soal kepercayaan, meski saya sudah pernah ditinggal begitu saja tanpa pemberitaan, meski saya pernah dijanjikan harapan-harapan tak pasti berulang kali, atau meski saya harus pergi meski saya telah berkorban sepenuh hati. Saya tetap menjadi orang yang mudah percaya pada orang lain, saya tetap menjadi orang yang akan membantu seseorang yang pernah 'jahat' kepad

Ketemu Elly

Jadi kemarin saya akhirnya bertemu kembali dengan teman lama saya setelah 3 tahun lebih ngga pernah bertatap muka lagi karena jarak dan kesibukan. Selama tiga tahun itu, tentu saja ada perubahan-perubahan yang telah terjadi di masing-masing hidup kami. Saya yang sudah punya gelar tambahan di belakang nama saya, Elly yang sudah punya suami dan seorang anak yang lucu. Meskipun keadaan kami berubah dan tiga tahun lebih  berpisah, pertemuan singkat kemarin terasa seakan kami tetap dekat seperti dulu. Pembicaraan kami mengalir seperti tiga tahun lalu, tidak ada dinding apapun yang berarti. Ada satu hal yang sangat saya nanti jika bertemu Elly, dan itu juga terjadi di pertemuan kemarin. Bertemu dengan Elly berarti sama dengan mengecas kembali iman yang sering naik turun ini. Bagi saya, Elly selalu menginspirasi dengan cerita-cerita "usaha langit"nya. Bagaimana hikmah yang dia dapat dari "merayu Tuhan", dan dia adalah seorang saksi hidup yang mengalami langsung semuanya

Mengenalmu

Mengenalmu bukanlah sebuah kebetulan karna ku yakin semuanya adalah rencana Tuhan Meski demikian, ku tak pernah berharap akan mengenalmu dengan cara begitu, tapi jika memang sudah begitu jalan takdirku, aku cukup bahagia melewati jalan itu. Mengenalmu adalah hal yang tak kurencanakan tapi aku bisa apa dengan Takdir Tuhan Mengenalmu ternyata membawa warna baru dalam kehidupan membuat hari-hariku cerah kembali seakan disinari mentari harapan Mengenalmu membuatku merasakan kembali sesuatu yang telah hilang selama ini rasa senang dan rasa khawatir aku bahagia bertemu dengan seseorang yang baru seseorang yang mungkin akan bersama-sama menulis lembaran baru denganku Tapi, aku juga tak ingin berbohong jika di saat yang sama aku tak bisa menampik rasa khawatirku Aku takut, kamu sama seperti yang sudah-sudah Aku takut, kamu malah membuat retak hati bertambah parah Aku takut, setelah mengenalmu, semuanya semakin tak mudah Aku takut, tangisan itu kembali tumpah Tapi, aku bis

Rendang Mamak is The Best

Saya rasa hampir semua orang Indonesia familiar dengan rendang, terutama yang berasal dari Pulau Sumatera. Rendang identik dengan festival, hari besar, hingga hajatan. Rendang juga identik dengan Padang tapi Aceh juga punya Rendang. Dan seperti setiap daerah di Aceh yang punya logat berbeda-beda dalam pelafalan bahasa, Rendang pun juga dimasak agak sedikit berbeda dengan daerah satu dan lainnya, setidaknya itu pengamatan saya yang belakangan ini tertarik dengan urusan dapur (it's such a big achievement for me). Jadi, dalam memasak rendang, lengkuas adalah salah satu bahan penting. Di dunia maya saya pernah menemukan meme seorang bocah menangis karena menggigit lengkuas setelah sebelumnya mengira itu adalah potongan daging terbesar. Itu terjadi karena cara memasaknya dengan menggeprek lengkuasnya. Nah, saya baru tau ternyata resep rendang mamak tidak begitu, pantes selama ini saya anteng2 aja makan rendang rumahan. Resep mamak emang the best lah. Lengkuasnya ikut diblender denga

Stop Judging, You Sharp Mouths!

Familiar gak sih sama kalimat begini: "Ih, kok mau ya dia sama calonnya itu. Kan fisiknya biasa aja (kalau nggak dibilang jelek). Oh, pasti deh karena dia udah punya mobil, atau mungkin karena dia gajinya gede, pantes sih" atau... "calonnya itu ganteng ya, kegantengan sih buat dia... Kok bisa ya" Nah loh, yang ga ganteng salah, yang ganteng pun salah. Orang-orang yang berkomentar tentang hidup orang lain itu tak akan pernah setuju dengan pilihan orang yang dikomentarinya. Kalau ganteng, dibilang ga pantas. Nggak ganteng, dibilang karena matre. Duh salah aja ya. Mereka emang suka aja ngomong begitu lalu pergi. Mungkin motifnya menyenangkan diri mereka sendiri kalau nggak bisa disebut iri.

Fatwa Shopping

This post is still about religion; about Islam. Before, I wrote in Bahasa Indonesia and this time I'll write in English. The contents are not the same though. Yesterday, I experienced to meet a professor from a university in Sidney. We were in informal meeting and we shared a bit of this and that.  The main topic was about Islam and Islamic economics. Then at a time, we talked about fatwa shopping. What is fatwa shopping? You know when you disagree with a fatwa of an ulama because it doesn't benefit you, then you ask another ulama until you find a right fatwa that suits your preference best. You just take the fatwa that benefits you. Otherwise, you come to another ulama again. It's called fatwa shopping.  It is indeed that Islam is easy. However, when you choose a certain imaam, means that you have to follow all of His fatwas. You cannot choose fatwa about A from ulama B while for fatwa about B you choose fatwa from ulama A. It's called inconsistency unless

Agama: Antara Logika dan Hati

Postingan ini terinspirasi dari sebuah postingan di dunia maya oleh sebuah akun yang saya ikuti tentang ketidaksetujuannya dengan pendapat orang terdekatnya bahwa beragama itu harus dengan hati. Ia yakin bahwa beragama harus dengan logika. Saya tau kemana arah pembicaraannya. Tetapi tetap saya sukai postingannya. Ditambah lagi dia menambah dua balasan atas postingannya tadi.. Pertama dia mengatakan bahwa Tuhan itu memberikan kita akal, jadi harus dipake. Well,  balasan selanjutnya agak tendensius, saya kurang suka sih, karena seolah-olah orang yang tidak berada di logika yang sama dengan miliknya adalah orang yg ga mikir, ga logis, ga pake otak. Lucu sih bagi saya. Tapi tak perlu saya tanggapi di sana lah. Yang akan saya bahas adalah saya setuju jika kita beragama maka kita harus menjalankannya dengan logis. Pakai otak. Pakai logika. Kenapa A, kenapa B, kenapa tidak C, kenapa harus D? Bahkan Allah dalam Al-Quran berulang kali mengulang frase "afalaa tatafakkaruun" ata