Posts

Tentang Pulang

Saat mengingat pulang, terkadang aku sudah tak sabar lagi menukarkan kertas A4 bertuliskan detil kepulanganku dengan boarding pass di konter maskapai berwarna ungu itu. Mungkin saja aku sudah mulai jengah dengan kehidupan negeri dongeng di sini, rasanya segalanya serba indah, mudah, dan nyaman. Tapi jauh di dalam hati ini, ada kehampaan yang terasa, tak lengkap tanpa orang tua, dan tanpa cinta. Mungkin itu alasanku kenapa ingin pulang. Sebaliknya, ada sisi lain dalam hati ini yang tak ingin kembali. Aku belum siap meninggalkan negara ini, masih banyak hal yang ingin kulakukan di sini, aku belum selesai dengan kota ini. Ditambah lagi rasa khawatir yang akhir-akhir ini tak pernah lagi pergi dan semakin bertambah saja. Khawatir tentang bagaimana aku harus beradaptasi lagi dengan reverse culture shock seperti cuaca, transportasi, currency, listrik, gempa, internet, tayangan televisi, politik negeri dan masih banyak lagi. Cemasku kian bertambah saat aku memikirkan tentang gelar master...

Hmm... Sudah Kuduga

Image
Pernahkah kalian merasakan hal yang sama seperti ini? Saat kalian sudah muak dengan segala hal tentang sesuatu, muak dengan sikap kalian sendiri yang tak bisa melepaskan diri dari kenangan masa lalu yang sudah lewat dan harapan masa depan yang sangat tidak pasti lalu kalian berniat sekali untuk berhenti saat ini juga. Bagian selanjutnya adalah kalian berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri dari sesuatu itu, mengumpulkan segala alasan dan pembenaran untuk pergi, berdoa supaya diberikan ketetapan hati, dan kalian berhasil! Selang beberapa waktu, kalian mulai menikmati keberhasilan, mulai bahagia, mulai biasa saja dengan hal itu bahkan sudah sama sekali tidak peduli. Tapi ternyata hal yang tak terduga tiba-tiba begitu saja datang dan mengingatkan kalian pada sesuatu itu, seolah mengajak kalian kembali membuka tiap halaman bab kehidupan tentangnya, dan seakan semesta mengatakan untuk tetap menjaga harapan itu dan menuliskan to be continued   instead of  the end.  Dan sem...

Menghadapi Fitnah

Beberapa waktu lalu saya mengalami hal yang tidak menyenangkan, saya difitnah di depan teman saya sendiri oleh seseorang yang cuma satu dua kali saja bertemu saya. Lantas, setan pun datang mengompori saya untuk membela diri dan menceritakan kejadian sebenarnya kenapa dia bisa menuduh saya yang macam-macam seperti itu. Setan dan nafsu self defense saya membujuk secara halus dengan dalih saya berbuat benar jadi saya pantas ikut menjelekkan si pembawa berita buruk dengan menceritakan kejadian yang saya yakini benar adanya. Semalam, saat saya melakukan kebiasaan buruk sebelum tidur; men-scroll timelines semua sosial media saya, di instagram saya menemukan sebuah nasihat luar biasa dari akun @pedulijilbab yang sudah cukup lama saya ikuti. Dalam postingan berupa gambar 4x4 itu tertulis begini: DIFITNAH? Berikan jawaban terindah untuk ia yang memfitnah: Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu. (Ustadz Salim A. Fillah) Ah, sungguh saya lang...

Ketika Cinta Harus Memilih

Masih dalam suasana Idul Adha yang identik dengan pemotongan hewan kurban, saya jadi teringat tentang sebuah film pendek yang saya tonton di youtube beberapa waktu lalu. Kisahnya mirip dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. saat diuji cintanya kepada Allah untuk mengorbankan anak kesayangan beliau. Ujian yang sangat berat karena disitulah pembuktian tentang seberapa besar ketaatan seorang hamba akan perintah Tuhannya namun di saat bersamaan ujian itu secara langsung melibatkan cinta seorang ayah terhadap anaknya. Di satu sisi, ketaatan kepada Allah adalah sesuatu hal yang mutlak dilaksanakan apalagi beliau adalah seorang Rasul, namun di sisi lainnya pembuktian taat itu harusnya mengorbankan seseorang yang teramat dicintai dan pernah sangat dinanti kehadirannya dalam jangka waktu yang sangat lama. Kembali ke film pendek yang saya tonton, ceritanya tentang seseorang lelaki yang akan segera menikahi wanita shalehah. Tapi, ada syarat tertentu yang diajukan orang tua calon mempelai wanita yaitu s...

Happy Birthday to Me

Dear readers, awal September tahun ini akhirnya umur saya mencapai 1/4 abad. Hmm, ntah kenapa ulang tahun kali ini terasa hambar meski penuh kisah warna-warni dan penuh harapan yang telah dibuat jauh-jauh hari. Tetap saja semuanya terasa berjalan begitu saja tanpa makna yang berarti meski setiap detik pergantian tahun saya nikmati. Mungkin saja hati saya sudah terlalu keras untuk merenungi dan mensyukuri segala sesuatunya, atau bisa jadi ada hal yang sedang mengganjal di hati yang belum terpenuhi sehingga saya ngambek sama Allaahu rabbi. Astaghfirullaah! Oiya, sehubungan dengan usia saya yang tak lagi muda, saya rasa mulai sekarang saya akan menggunakan kata ganti saya ataupun aku dalam tulisan-tulisan saya berikutnya. Tidak ada lagi Dek Ann, sudah cukup saya merasa masih remaja, kali ini biarlah saya sedikit jujur kepada diri sendiri bahwa panggilan dek Ann tidak lagi cocok melekat pada diri ini. Setuju, kan? Toss dulu kita! Ulang tahun kali ini banyak misi yang harus saya penuhi,...

SBS

Image
Dulu, semasa kecil, entah datang darimana, dek Ann pernah bermimpi ingin sekali kuliah di Inggris, di Oxford. Terserah di fakultas apa saja, yang penting Oxford. Rasanya mimpi itu akan dengan mudah tercapai saat itu, apalagi didukung dengan prestasi dek Ann yang lumayan saat itu plus dukungan Ayah yang luar biasa. Seiring waktu berjalan dek Ann pun sadar ternyata mewujudkan mimpi itu tak semudah memimpikan mimpi. Hidup sebagai seorang dewasa ternyata jauh lebih sukar daripada hidup sebagai anak-anak. Segala sesuatunya berubah hingga mimpi itu hilang berganti banyak hal lain yang harus dihadapi dan dipikirkan. Terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak masalah seiring usia bertambah. Apalagi saat Ayah sudah tak lagi menemani kami di dunia ini, rasanya mimpi dek Ann untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri itu hanya tinggal kepingan berserakan saja. Ada namun butuh segenap usaha untuk mempersatukannya. Meskipun begitu, Allah sebagai sang Pencipta tak pernah melupakan mimpi seorang...

Merasa

Image
Mungkin selama kita hanya merasa mampu Hanya merasa! Karena umur tak lagi muda Dan teman yang sudah berkeluarga Padahal Tuhanlah yang paling Tau Kapan saat yg terbaik untuk kita Tanpa harus terburu-buru Bisa jadi kita memang masih lebih baik sendiri Ada banyak hal yang masih perlu dipelajari Ada keindahan yang Tuhan ingin kita syukuri saat kita sendiri Atau mungkin ada bakti yang masih harus kita penuhi Tak perlu begitu sendu seakan duniamu tak lagi secerah dulu seakan-akan tak ada lagi yang bisa disyukuri Sudah, jangan sampai pikiran-pikiran itu membuatmu lupa diri, lupa lalu kufur akan nikmat Ilahi  Bukankah kamu masih bisa makan tiga kali sehari? Punya hidup tenang tanpa usikan mesiu? Sudahlah Tak perlu bermuram durja Merasa diri paling hina Hanya karena belum punya bahu untuk bersandar Bukankah untuk saat ini Sajadah lebih berarti?